Skip to main content

BULUTANGKIS DI NEGERI GAJAH PUTIH (Part 2)

Lanjutan dari postingan yang lalu "Bulutangkis di negeri gajah putih (Part 1)"..

Thailand saat ini bukanlah negara yang bisa dipandang sebelah mata dalam olahraga badminton. Sudah banyak pemain pemain asal Thailand yang berada di peringkat atas. Seperti Ratchanok Intanon (pemain tunggal putri), dan Dechapol Puavaranukroh x Sapsiree Taerattanachai pada sektor ganda campuran. Tak jarang di kompetisi super series 1000 maupu  750 akan didapati nama mereka di Final.

Untuk itu, menurutku ketika nanti aku menjajal bermain di Thailand ini, mungkin kemampuan mereka tidak akan jauh berbeda dengan pemain-pemain di Indonesia.

Masih kuingat, pertama kali aku bermain disana, diajak bermain dengan temanku Faruq(dahulu dia  sempat ikut klub badminton dikala SMP) dan juga teman-teman baruku di thailand seperti Faiz, Yuna, Yuri, serta Riku. Saat itu aku sedang tidak memakai full set perlengkapan bermain badminton yang memadai. Memakai sepatu running merahku, dengan raket yang sangat tidak enak dipakai karena raket itu dapat dikategorikan sebagai raket mainan. Raket dalam kategori mainan menurutku adalah raket yang tidak imbang beratnya sehingga terasa terlalu ringan(bila itu terbuat dari plastik) ataupun terlalu berat di bagian tertentu menjadikan aneh bila diayunkan. Terlebih raket ini tentu memiliki ketahanan yang buruk. Bila digunakan untuk mengayun terlalu keras-cepat saja mungkin akan bengkok dengan sendirinya, apalagi bila terbentur dengan ayunan raket dari kawan, sudah tentu akan bengkok. Karena memang pada hari itu aku akan bermain bersama orang-orang yang aku yakin bukan pemain badminton, sehingga dengan set seperti ini pun tidak terlalu bermasalah. Bukan keringat yang aku cari, namun hanya enjoy saja dengan teman teman baruku ini. 

Hari demi hari berlalu. Tentu suatu saat aku ingin menjajal bermain dengan sepenuh hati dan dengan penuh kemampuan maksimalku. Kuputuskan untuk membeli raket yang memadai seharga 1000 baht (sekitar 450 Ribu Rupiah). Kubeli raket itu dari orang Indonesia yang sudah tidak lagi memakai raket tersebut dan hendak pulang ke Indonesia. Memang raket itu second namun jarang terpakai. Terbukti dengan cat yang masih mulus dan tidak adanya goresan di tepian raket. Namun tak apa. Lalu aku memasang senar raket ini di toko @Banbadminton seharga 200 baht dengan kekencangan senar raket 34. agak terlalu kendor memang, dimana ideal kekencanganku yaitu 36. Raket yang kekencangannya terlalu kendor akan membuat laju pukulan kok lebih lambat dibanding raket yang memiliki kekencangan tinggi. Sedangkan raket yang kekencangan senarnya tinggi membuat pukulan menjadi lebih keras,  akan memiliki presentase lebih mudah putus.

Bila raket sudah kumiliki, sekarang ada hal lain yaitu sepatu. Sepatu menjadi hal yang sangat krusial bagi diriku karena pada pergelangan kaki kananku pernah mengalami terkilir yang teramat parah. Sampai-sampai pada saat itu aku tidak bisa bermain badminton selama kurang lebih 3 bulan untuk proses pemulihan. Sepatu yang kugunakan saat itu bukan sepatu khusus badminton. Namun sepatu running/jogging yang secara umum pada bagian belakang memiliki sol yang tinggi. Berbeda dengan sepatu badminton yang antara sol depan dengan sol belakang (bagian tumit) memiliki perbedaan ketingian namun tidak signifikan. Sehingga memang tiap olahraga memiliki peralatan standar masing masing yang didesain khusus agar digunakan hanya pada olahraga tersebut.

Akhirnya kupilih sepatu Viktor S70 A berwarna putih. Kubeli dengan harga 2900 baht (sekitar 1,3 Juta rupiah). Mungkin bila dikurs kan ke rupiah akan mencapai 1,3 juta rupiah. Sepatu ini akan menjadi sepatu termahal yang pernah kumiliki di umurku yang ke 22. Aku membeli sepatu ini juga bukan tanpa perhitungan. Dikarenakan aku juga memenangkan desain Kaos Polo KU 82 yang menghadiahkan juara pertama mendapatkan uang sebesar 5000 baht (sekitar 2,2 Juta Rupiah), sehingga aku berani membeli sepatu ini.

Raket sudah, sepatu sudah, baju serta celana tentu aku membawa banyak di koperku. Bagiku, keempat komponen tadi, yaitu raket yang standar, sepatu yang nyaman, baju yang tidak terlalu longgar serta celana yang pas ketika dipakai tentu akan menambah kepercayaan diri dalam tampil di lapangan. Tinggal kedepannya, siapakah lawan yang akan aku hadapi.

Suatu hari ketika aku bermain bersama teman-teman Simpul KU di lapangan badminton kampus, di samping lapangan kami terdapat 2 pria yang mahir dalam bermain badminton. Yang satu berperawakan besar (berotot) yang satunya proporsional(atletis). dalam benakku "akhirnya aku memiliki lawan yang seimbang". Seketika aku mengajak mereka untuk bermain 1 set saja. Aku ditemani dengan mas Hagi yang lumayan bisa bermain badminton. 

Permainan begitu sengit. Aku meluapkan segala kemampuanku, meskipun badanku kecil, namun dari keempat orang ini, mungkin smashku lah yang paling menggelegar dan kencang. Namun memang secara kemampuan tidak imbang antara pasangan Thailand dengan pasangan Indonesia ini. mereka berdua memiliki kombinasi yang lengkap, pukulan-pukulannya lengkap, dan hampir susah untuk ditemui kelemahannya kecuali aku harus menembak dengan sekuat tenaga untuk menembus pertahanan mereka. Sedangkan disisiku antara aku dan mas Hagi memiliki kemampuan yang jauh berbeda. diibaratkan aku perlu menggendong mas Hagi untuk meraih poin tiap poin. Tidak boleh ada kesalahan sedikitpun yang aku perbuat, kalau tidak maka mas Hagi akan menjadi incaran smash dari lawan. Mungkin dalam segi penempatan bola, aku akan bisa mengarahkan titik mana yang akan membuat aku dan mas Hagi untung. Namun ketika mas Hagi yang akan memukul bola, tentu hanya kepasrahan yang aku terima untuk menerima segala kemungkinan dari pihak lawan. Entah smash yang keras, ataupun placing/penempatan bola yang susah. Akhirnya game dimenangkan oleh pasangan Thailand itu. Namun dihatiku tetap bangga bahwa aku dan mas Hagi telah memberikan perlawanan yang maksimal.

Sejak saat itu aku mengerti harus mencari di mana lawan-lawan yang setara denganku. Lawan yang akan membuat aku bisa merasa senang dalam meluapkan segala tenaga di dalam hobbyku ini yang dahulu aku memiliki cita cita tinggi-menjadi pemain badminton nomor 1 dunia. Namun itu tidak lagi. haha

Mas Hagi mencoba mengontak Badminton Club di Kasetsart University  lewat Facebook. bertanya apakah boleh kami ikut dalam latihan mereka. dan ternyata... tentu saja boleh. Latihan akan dilaksanakan setiap hari Selasa sore pukul 18:00-20:00. Tentu aku akan sangat menantikannya.

Tibalah disaat hari H dimana aku datang di lapangan. mas Hagi tidak hadir, namun Faruq akan menyusul sehabis maghrib. Aku berkenalan dengan mereka para anggota KU Badminton Club dan langsung dipersilahkan main double di lapangan. Tentu, keempat pemain di lapangan saat itu memiliki kemampuan yang masing-masing seimbang. Sehingga permainan memang terasa sengit dan melelahkan namun seru. Sudah lama aku tidak merasakan rasa lelah dalam bermain badminton. 

Hari-hari setelahnya, aku tidak hanya bermain dengan anak anak muda di KU Badminton Club, namun aku juga bermain dengan bapak bapak Thailand yang tidak kalah bagus bermainnya. Dengan bapak bapak ini aku bermain setiap selasa sore, sekali dalam seminggu. Memang dari skill mungkin bapak bapak ini sedikit jauh berbeda dengan anggota club, namun untuk energi, daya tahan, bapak bapak ini sangat bagus. Bila saya tidak melakukan pukulan pukulan efektif, bisa saja energiku lebih cepat habis dibanding bapak bapak ini.

Terdapat kesan yang tidak akan aku lupakan ketika bermain dengan bapak-bapak ini. Yaitu aku diterima dengan senyuman. Seperti aku adalah anak mereka sendiri yang dinanti nantikan kehadirannya di tiap jadwal latihan. Itu sangat mengesankan buatku. setiap selesai bermain 1-2 set, selalu saja dimintai untuk bermain lagi dan lagi. Diajak dengan bapak a, bapak b, bapak c, dan lain lain. Mereka sangat senang ketika aku ada di game. Sering kali juga mereka menawarkan makanan atau minuman yang mereka bawa di lapangan. Seperti air buah blewah, berbagai jus, makanan kerang-kerangan, dan jajanan lain. Bahkan, pada satu kesempatan, beberapa dari mereka mengajakku untuk makan bersama di restoran yang ada di Bangkok. tentu akan aku ceritakan di postingan selanjutnya :) 

Comments

Popular posts from this blog

LIKA LIKU PERJUANGAN MENCARI KERJA, AKHIRNYA PT SIS LAH JODOHKU!!

Hi guys. Today I am happy to share that I’m joining PT. Suzuki Indomobil Motor / PT Suzuki Indomobil Sales! Countless times I applied for a job. It can be done by filling out Google forms, completing documents on a company’s career website, or sending emails for positions I’m interested in. I constantly improve my CV weekly to ensure it is good enough. Suzuki, one of the most popular automobile brands in the world, focuses on middle-class passenger cars and commercial cars, which are very well-received by the public. Suzuki is also superior in terms of after-sales service compared to other competitors. Of course, it makes me very proud and grateful to become part of #SuzukiFamily. I am starting a new position as a Management Trainee Service Area, with the main task of monitoring, evaluating, and improving the performance of Authorized Suzuki Dealers in Indonesia. Saya memulai proses pendaftaran melalui Jobstreet dan dari situ, alhamdulillah berlanjut proses recruitment bersama ...

MY BIGGEST STEP ON 2024: JOIN BYD MOTOR INDONESIA!!

Hi... Entah mulai dari mana cerita ini akan aku rangkai. waktu terus berjalan. hari demi hari telah berlalu. Sedangkan aku sudah berada di tempat yang baru. Ya benar. sesuai judul dari postingan ini. aku bergabung di perusahaan baru yaitu BYD Motor Indonesia.  hari ini adalah 14 Mei 2025. Ketika paragraf pertama diatas aku tulis, bisa dibilang aku sudah bergabung di perusahaan baru sekitar 8 bulan. waktu yang sudah cukup lama untuk merangkai kata kembali sebenarnya. Tetapi dibenakku selalu terpikirkan, kapan aku akan merangkai cerita lagi?, kapan aku bisa menuangkan segala pemikiran yang ada di otakku menjadi catatan catatan kecil di cerita ini. aku juga teringat sebuah kalimat, its better late than never. maka dari itu, akan kucoba kumulai kembali, goresan goresan ini. Setelah dipikir pikir, aku khawatir kalau aku akan lupa pada kejadian-kejadian yang sangat menarik di kehidupanku. aku tidak tahu, apakah tulisan ini dapat bermanfaat bagi kalian semua para pembaca, rekan rekanku, a...

DARI ORANG JEPANG KITA AKAN BELAJAR APA ITU TERIMAKASIH

     Ya. Menurut kalian, hal apa yang pertama kali muncul di pikiran kalian ketika berbicara tentang orang Jepang? Yang ada di dalam pikiranku selama ini adalah mereka sangat paham tentang budaya "Mengantri". hahaha. setidaknya itu yang selalu bermunculan di media sosial. Barisan antrian orang orang jepang selalu rapi dan tidak kacau seperti negara lain. lantas apa ada pendapat lain menurut kalian mengenai orang Jepang? mungkin seperti orang jepang terkenal dengan kedisiplinannya, kerapiannya, kebersihannya, Rasa terima kasihnya terhadap orang lain baik kepada guru atau orang yang telah menolongnya/memberinya bantuan/berbuat baik kepadanya. Pada kali ini aku ingin membahas mengenai kebiasaan orang jepang yang terakhir. lets go.   Yuna (kanan) dan Yuri (kiri). Mereka adalah mahasiswi asal Jepang yang juga berkesempatan berkuliah di Kasetsart University hanya untuk beberapa bulan saja. Sama sepertiku yang singkat yaitu hanya 5 bulan saja, namun Yuna dan Yuri ternyata...